JurnalTepungTerigu

Fakta Start-Up K-Drama vs Start-Up di Dunia Nyata

20 comments
Mengetahui Fakta Start-up K-drama

Serial drama Korea berjudul Start-Up yang on going tayang di TVN memberiku ide untuk menulis. Aku akan membahas tentang beberapa fakta start-up K-drama vs start-up di dunia nyata. Apakah proses beserta kegiatan yang dialami para pelaku perusahaan rintisan sama dengan penggambaran dalam drama terbaru Start-Up?

Sejak 17 Oktober 2020, para fans K-drama dihebohkan dengan serial drama terbaru tersebut. Bukan hanya karena para pemerannya yang berkelas, alur cerita serta nuansa yang ditampilkan sangat menarik perhatian. Bahkan Iman Usman, co-founder dari start-up digital bidang pendidikan terbesar di Indonesia melakukan live IG untuk membahasnya.

Berdasarkan penjelasan Iman Usman serta informasi yang aku kumpulkan dari berbagai sumber, terdapat beberapa fakta yang tidak sepenuhnya sesuai dengan Start-Up di real life. Jika kamu berniat untuk merintis usaha, terutama berbasis IT, maka sebaiknya kamu tahu akan hal ini. Oh, why? Ya, biar ga halu!

Fakta Start-Up K-Drama vs Start-Up di Dunia Nyata

Menurut Wikipedia, start-up adalah sebutan untuk perusahaan yang sedang berkembang dan berada dalam fase mencari target pasar. Banyak sekali ilmu tentang bisnis yang dapat kita ambil dari drama korea Start-Up. Namun tidak lantas semua hal yang ada di dalamnya kita serap secara mentah. Perlu diimbangi dengan riset lanjutan tentang mengelola usaha rintisan.

Real Start-Up Incubator vs Sand Box

Di episode 5 dan 6 dari drakor ini, ditunjukkan bahwa Sand Box menjadi titik awal karir Seo Dal Mi dan kemajuan Namsan Tech dalam memulai bisnis. Sand box adalah suatu Inkubator tersohor di Seoul yang mendanai para start-up baru di Korea. Seleksi yang sangat ketat harus dilalui oleh para pelaku usaha rintisan untuk mendapatkan dukungan fasilitas dan dana.

Setelah berbagai tahap dilakukan, akhirnya Seo Dal Mi menjadi CEO Namsan Tech. Kecerdasan dan sikap cekatannya pun berhasil membuat start-up rintisan Nam Do San tersebut dipilih oleh pihak Sand Box. Berbagai fasilitas canggih mereka dapatkan. Selain itu, ada makanan gratis, kantor mewah hingga dana yang fantastis. (Aku langsung teringat adegan tingkah norak Nam Do San dan kedua sahabatnya yang kocak. Aku ikutan histeris saat menontonnya) 😂

In real life, inkubator start-up benar-benar ada dan sudah cukup banyak di Indonesia. Di antara perusahaan tersebut antara lain Skystar Ventures, Indigo Incubator, Ciputra Gepi Incubator, dan IDX Incubator. Pelatihan, mentoring, dan pendanaan adalah 3 hal utama yang menjadi programnya.

Namun perbedaan yang terdapat di kehidupan nyata, semua fasilitas yang diperoleh para start-up tidak semewah dalam drama. Kantornya sederhana, makanan tidak sebanyak di Sand Box, dan peralatan seperti komputer tidak sampai “wah” seperti milik Namsan Tech. Jadi, turunkan ekspektasi kalian jika ikut program inkubasi. Kecewa itu menyakitkan meeeeen!

Pembagian Saham

Poin ini sangat menarik perhatianku. Adegan pembagian saham yang ada di episode 6 memberikan referensi bahwa CEO harus dapat saham paling tinggi. Saat tim Namsan Tech belum mendapat pengarahan dari Han Jipyeong selaku mentor, saham mereka bagi secara rata. Hal tersebut mendapat teguran keras karena seharusnya CEO punya power kuat dengan saham tertinggi. Jika tidak demikian, perusahaan rintisan akan sulit mendapat investasi.

Fakta mengenai power yang harus dimiliki seorang CEO memang lah benar. Namun pembagian saham dalam dunia Start-up tidaklah sesederhana itu. Banyak negosiasi dan pertimbangan yang mesti dilakukan. Angka dari saham pun bisa dibagi rata dengan tetap menentukan siapa yang bertanggung jawab membuat keputusan. Semua itu tergantung pada negosiasi antar founder beserta tim inti.

Oleh karena itu jangan sampai secara mentah kamu mengambil referensi dari K-drama ini. Akibatnya bisa fatal. Perbanyak baca buku mengenai Start-Up dan berkonsultasi kepada para pakar bisnis. Ingat, ada unsur dramatisasi dalam serial drama yang mana hanya untuk keindahan belaka. Muehehe.

Mentor dan Pembentukan Tim

Beberapa Fakta Start-up K-drama

Fakta Start-Up K-drama berikutnya yakni mengenai mentor dan pembentukan tim. Dalam program inkubasi, adanya mentor memang sesuai dengan tujuan program tersebut. Namun menjadi tidak real ketika mentor datang setiap hari untuk memberikan konsultasi. Apalagi jika sampai ada mentor-mentor dari luar negeri yang sudah punya level kelas dunia seperti dalam adegan rekruitment oleh Sand Box.

Menjadi beda kasus jika kamu memang mendaftar ke inkubator bertaraf internasional. Selain mendapat mentor yang lebih kompeten, tingkat kesulitan seleksi juga sangat tinggi. Station F menjadi rujukan para pemilik usaha rintisan untuk berkembang secara global.

Kemudian mengenai penentuan tim, value yang bisa kita dapat sangat relevan dengan dunia nyata. Terlihat dari Namsan Tech yang tidak mengalami kemajuan selama dua tahun. Penyebabnya adalah tidak ada sosok yang ahli dalam bisnis. Tiga sekawan tersebut adalah engineer yang bisanya hanya menghasilkan produk.

Idealnya ada tiga bagian yang saling berkolaborasi dalam membangun sebuah Start-Up, yakni hustler, hacker, dan hipster. Hustler adalah orang yang fokus dalam bisnis seperti pemasaran dan operasional. Dalam K-drama ini diwujudkan dengan sosok Seo Dal Mi. Lalu hacker bertanggung jawab dalam engineering/pembuatan produk yang dilakukan oleh Nam Do San, Lee Chul San, dan Kim Yong San. Sedangkan hipster adalah orang yang fokus pada komunikasi dan pelayanan atau satisfying consumer melalui desain. Bagian ini dipegang oleh Jung Sa Ha.

Sebenarnya bisa saja Namsan Tech sukses tanpa Dal Mi dan Sa Ha. Hal itu dapat terwujud jika di antara ketiga sahabat tersebut bisa multi tasking menjadi hustler dan Hipster. In real life, banyak start-up yang hanya dimulai dari dua-tiga orang dengan memaksimalkan multi tasking tersebut.

Sosok CEO Ala Seo Dal Mi vs Wo In Jae

Ada yang berpendapat bahwasanya untuk menjadi seorang CEO di dunia nyata, sosok Seo Dal Mi kurang realistis. Pasalnya ia tidak berpengalaman dan hanya lulusan SMA. Berbeda dengan saudaranya, si Wo In Jae yang sudah punya pondasi kuat dalam bisnis. Apakah benar CEO yang minim pengetahuan dan pengalaman seperti Dal Mi tidak bisa jadi CEO?

Berdasarkan diskusi yang aku ikuti, Iman Usman selaku co-founder Ruangguru menjelaskan bahwa tipe orang seperti Dal Mi sangat bisa menjadi CEO. Sosok yang tidak punya “privilege” dalam materi maupun latar belakang pendidikan punya kesempatan yang sama jika berusaha. Dalam drakor Start-Up ditunjukkan bagaimana proses Dal Mi untuk mewujudkan impiannya. Ia membaca banyak buku, mengikuti kursus, berkonsultasi dengan mentor, dan lain sebagainya.

Selain itu, ia juga memiliki sifat dan sikap yang mendukung dalam leadership. Fleksible, menjadikan kendala sebagai peluang, melihat dari sudut pandang berbeda, dan tidak ragu-ragu adalah karakter yang dimilikinya. Bedanya hanyalah perihal waktu. Dalam drama terlihat lebih cepat, namun di dunia nyata akan butuh waktu yang lebih lama. Lagi-lagi tidak sesederhana dalam film, Guys!



Meskipun sulit mengingat nama-nama aktor dan artis korsel, aku telah menikmati cukup banyak serial drama Korea. Ini adalah pertama kalinya aku menulis tentang drakor. Sungguh sebuah keajaiban hingga aku memutuskan untuk memilih topik ini. Ahaahaha. Semoga tidak mengecewakanmu, pembaca setiaku!

Dari fakta-fakta di atas, apa fakta Start-Up K-drama yang kamu percaya, namun ternyata berbeda di kehidupan nyata? Cuss sampaikan di kolom komentar!



Miela Baisuni
Jatuh cinta pada buku sejak sekolah menengah, menulis adalah kecintaan mulai usia yang kalau ditanya jujur terus jawabannya. Sekarang milih fotografi dan travelling sebagai pelengkap hobi sebelumnya. Nice to see you!

Related Posts

20 comments

  1. Belum berkesempatan nonton sih, Kak. Dimasukkin ke list tontonan dulu deh, hehe ^^

    ReplyDelete
  2. Sejak rilis trailernya pengen banget nonton ini, tapi karena prioritas lain jadi belom bisa. Makasih mbak, tulisanmu membuat aku makin tertarik 😁

    ReplyDelete
  3. Bikin penasaran, kayak apa sih CEO yang minim pengalaman dan pengetahuan itu? Coach-nya bener-bener racun ini. Hihi ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. racun di mana mana. ahahaha. Segera nonton, kak!

      Delete
  4. Mba miela tulisannya selalu enak banget dibaca, ga ngerti dunia beginian jadi akhirnya paham

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin semoga selalu bisa menginspirasi dan menghibur lewat tulisan. Terima kasih sudah mampir Kak Ummi Maryama :)

      Delete
  5. Seindah-indahnya di drama tetaplah drama tidak nyata.

    Halu banget deh kalau bisa di SandBox
    😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha, akhir-akhir ini yang halu halu banyak dicari

      Delete
  6. seru banget inih, aku menanti tiap episode terbaru dengan berdebar, begitulah serunya nonton on going k drama

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya aku malas nonton yang on going. pasti kutunggu sampai tamat dulu. Eh ternyata seru juga ya nungguin tiap minggu kalau dramanya keren begini.

      Delete
  7. Ini drama udah masuk watch list, namun belum sempat nonton sampe sekarang

    ReplyDelete
  8. Recomended ini, lagi belajar ttg star up pengelolaan sampah

    ReplyDelete
  9. Selalu mengambil hikmah dari apapun. Go go mbak Miela

    ReplyDelete
  10. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  11. ah parah sih ini aku jadi makin kepengen nonton, ada akang Joo Hyuknya :(

    bahkan diskusi di ruang guru pakai contohnya di drakor ya, baarakallah mbak aku suka baca ulasan mbak Meila ><

    ReplyDelete
  12. cewek gak pernah pacaran ketemu cowok yang gak pernah pacaran terus akhirnya mereka pacaran. Duh ga sabar liat endingnya nih

    ReplyDelete
  13. nyatanyaaaa susah cari investor seganteng Han Ji Pyeong 😂🤣

    ReplyDelete
  14. Meskipun belum nonton dramanya, baca tulisan ulasan mbak miela jd tambah semangat mau nonton, mana ada Nam Joohyuk sama mbak Suzy, uhuuy. Tp rada nggak sabar kalo nonton drama on going :(
    Masuk ke list tontonan duluuuu

    ReplyDelete

Post a Comment