JurnalTepungTerigu

Bangunan Merah Kota Melaka yang Memikat Hati

12 comments
Sejarah Bangunan Merah Kota Melaka

Pernahkah kamu mendengar tentang Bangunan Merah Kota Melaka? Sebuah situs sejarah yang menjadi destinasi wisata yang wajib dikunjungi di salah satu Negara bagian di Malaysia. Pertama kali traveling ke Luar negeri, aku memilih Malaysia untuk didatangi. Tidak lantas ke Kuala Lumpur yang ikonik dengan menara kembarnya, aku lebih tertarik menuju Melaka yang menyimpan banyak keindahan dan kedamaian.

Hari pertama begitu terik namun ada basahnya embun yang lumayan tebal. Secara spontan aku langsung betah di kota tersebut. Pagi hari adalah waktu yang tepat untuk menyusuri Melaka dengan berjalan kaki. Kesejukan di tengah cerahnya pagi hari membuatku bersemangat mengawali perjalanan.

Perlu kamu ketahui, untuk sampai ke Melaka, dibutuhkan waktu sekitar dua jam dari Kuala Lumpur (KL). Dengan memilih transportasi bus, tiket yang kubeli seharga 13RM atau senilah Rp44.000. Kondisi busnya nyaman, terdapat AC, kursinya empuk dan waktu tunggunya tidak lama sejak pembelian tiket.

Jika kamu ingin menempuh rute seperti yang kulakukan, maka sangat mudah membeli tiket bus menuju Melaka dari bandara KL. Langsung saja menuju loket pembelian tiket. Aku sarankan kamu memilih perjalanan malam menuju ke Melaka. Mengapa? Karena pagi di sana tidak boleh dilewatkan dengan keriwehan dan segala kerempongan. Keesokan harinya sudah siap explore dengan persiapan energi yang cukup.

Menyusuri Sungai Aestetik Menuju Bangunan Merah Kota Melaka

Malacca River Cruise

Moment yang paling melekat dalam ingatan tentang kota ini adalah saat melewati sungainya yang lumayan panjang. Panorama yang disajikan sungguh menyentuh memori. Tidak tampak adanya sampah berserakan. Aku seakan berjalan di sebuah pulau tak berpenghuni. Airnya yang tenang terlihat jernih dan penuh kesejukan. Ditambah lagi dengan sikap penduduknya yang ramah.

Hotel tempatku menginap yang lumayan jauh dari destinasi utama menjadi menyenangkan dengan menyusuri Malacca River yang aestetik tersebut. Tidak mengapa berjalan kaki cukup lama. Rasa lelah terobati. Apalagi ditambah dengan adanya perahu-perahu kuno yang bisa dinaiki para turis. Pada malam hari, banyak sekali atraksi di sana. Semakin menarik menghabiskan malam di atas cruise sembari menyaksikan atraksi dan pertunjukan para seniman.

Harga tiket Malacca River Cruise sekitar 30RM atau senilai Rp103.000 per orang. Dengan menaikinya, para pelancong dapat menyaksikan keindahan Melaka dari ujung ke ujung. Sayang sungguh sayang saat itu aku tidak menikmatinya karena budget yang minim. Hiks. Jika ada kesempatan lagi, aku pastikan mencoba sensasinya. 

Destinasi Bersejarah Peninggalan Kolonial

Jika di Indonesia ada Kota Tua Jakarta yang masih banyak terdapat bangunan zaman penjajahan, Malaysia juga punya Melaka dengan Bangunan Merahnya. Ia menjadi landmark yang legendaris. Bangunan tersebut bernama Stadthuys. Seluruh materialnya berwarna merah. Oleh sebab itu orang-orang juga lebih familiar menyebutnya Bangunan Merah Kota Melaka.

Sesampainya di sana, mataku langsung terkesiap memandangi setiap sisi dan sudutnya. Selain tulisan I Love Melaka di halamannya, nuansa klasik sangat terasa. Arsitektur kuno dari Stadthuys terawat dengan baik hingga memanjakan mataku yang mulai berkeringat. Tidak mau melewatkan momen berharga, aku jeprat jepret mengabadikan kenangan lewat lensa kamera.

Belajar Sejarah Bangunan Merah Kota Melaka

Bangunan Merah adalah bukti nyata pernah terjadi penjajahan Belanda di Melaka. Dahulu, ia menjadi kantor Gubernur koloni Belanda dan menjadi pusat administrasi selama 300 tahun. Pembangunan pertamanya dimulai pada tahun 1641 yang mana merupakan bekas reruntuhan benteng penjajah Portugis.

Namun sejak tahun 1982, ia diresmikan sebagai museum sejarah. Berbagai macam peninggalan sejarah kesultanan Melayu serta bukti berkuasanya para penjajah dipamerkan di sana. Hingga saat ini, bangunan bersejarah dan instagramable tersebut menarik banyak minat wisatawan. Dan aku salah satunya. Aku menyusurinya sebagai sebuah hiburan serta menjadi media belajar peristiwa penting di masa lalu.

Beruntung sekali saat itu aku tidak mengenakan pakaian yang tebal. Menaiki banyak tangga, mengelilingi bangunan yang luas akan terasa lebih melelahkan jika keringat mengucur deras. Lagi-lagi kuberi saran, jika kamu berkunjung ke sana, pakailah baju santai dan flat shoes agar nyaman saat berkeliling. Pakai sandal jepit pun ga papa. Ahahha.

Rasa lelahku saat itu tidak menjadi sebuah kekahwatiran. Di sekelilingnya sangat banyak penjual makanan dan minuman yang dapat dinikmati. Terlebih lagi souvenir khas Melaka. Kalau tidak punya banyak budget, ya sudah cuci mata saja, tidak usah beli πŸ˜†πŸ˜‚ 

Oh iya, tepat di samping Stadthuys, berdiri kokoh Gereja Kristus. Bagi kamu yang beragama Kristen menjadi nilai plus. Perjalanan spiritual dapat juga dirasakan selama mengunjungi landmark Melaka ini. Desain arsitekturnya juga sangat kuno dan berwarna sama dengan Stadthuys. Bangunan serba merah di mana-mana.

Meskipun aku seorang muslimah, mengunjungi bangunan-bangun bersejarah agama lain adalah sebuah anugerah. Perbedaan yang indah semakin kurasakan. Mempelajari asal usulnya pun menjadi kesenangan tersendiri. Konon, dahulu ia dibangun oleh pemerintah Belanda pada mulanya sebagai gereja protestan. Namun kini berubah menjadi gereja anglikan sejak kolonial Inggris berkuasa. 

Transportasi Hiburan Ramah Lingkungan

Di sekitar Bangunan Merah, terdapat banyak sekali transportasi dan hiburan. Apabila malas berjalan kaki, para turis dapat menyewa sepeda ontel. Jika capek ngayuh sendiri, maka naik becak hias dapat menjadi opsi lainnya. Kalau aku pribadi lebih suka berjalan kaki. Ada keinginan menikmati suasana perjalanan lebih detail. Selain itu juga dapat menghemat pengeluaran. Namun jika suatu saat aku ke sana lagi, akan kucoba menjelajahinya dengan bersepeda.

Penyedia jasa transportasi yang ramah lingkungan itu didominasi suku Indian dan Tionghoa. Para penjual makanan, minuman, dan souvernir juga banyak dari keturunan tersebut. Dari itu, aku menemukan sebuah akulturasi budaya di sana. Bahasa yang mereka gunakan tidak hanya bahasa Melayu. Namun juga ada percampuran dari mandarin, Inggris, India. Jika bertemu dengan Chinese yang tidak fasih bahasa Melayu, maka aku berkomunikasi dengan bahasa Inggris.

Pengalaman melancong ke Negara orang ternyata memang memberi nuansa berbeda. Banyak wawasan dan pandangan baru yang kukantongi. Keinginan untuk berkunjung ke negara-negara lain semakin kuat. Apalagi ditemani oleh tim VKS Tour yang sekaligus membimbingku untuk menjadi seorang Tour Leader. It’s really amazing and memorable.

Traveling selalu membuatku baper hingga melupakan fakta-fakta kesedihan yang sedang melanda. Setelah mengulas perjalanan mengunjungi Bangunan Merah Kota Melaka, sudah ada list destinasi lain yang akan kuceritakan. Tunggu postinganku berikutnya!
Miela Baisuni
Jatuh cinta pada buku sejak sekolah menengah, menulis adalah kecintaan mulai usia yang kalau ditanya jujur terus jawabannya. Sekarang milih fotografi dan travelling sebagai pelengkap hobi sebelumnya. Nice to see you!

Related Posts

12 comments

  1. Wow, aku taunya Melaka sebagai tempat berobat mba karena rumah sakitnya yang bagus-bagus. Ternyata tempat wisatanya pun ga kalah keren. Moga-moga suatu hari aku bisa kesana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari saking kerennya aku pengen ke sana lagi :D

      Delete
  2. Baru tau tempat wisata di malaysia selain menara kembar.. Info baru..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Kak. Bangunan Merah ini di daerah Melaka. Kalau menara kembar sih sebenarnya biasa-biasa aja.

      Delete
  3. Keren banget ya itu sungainya 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bangeeeeeet. Betah aku jalan di tepi sungai Melaka

      Delete
  4. Semoga pandemi segera berakhir sebelum paspor habis masa berlakunya. Ulasan wisata Jurnal tepung terigu bagai membawa langkah kaki kesana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamin, semoga bisa segera traveling lagi. Jangan lupa reviewnya ya, Kak kalau berkesempata ke sana.

      Delete
  5. Replies
    1. Makasiiii sudah mampir dan baca samapi tuntas!

      Delete
  6. Senengnyaaaa... Bisa explore budaya tetangga. Saya tahunya malaysia cuma jalan perbatasan sama Indonesia tuh. Itupun karena nonton pilemπŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga kak Wati' juga berkesempatan ke sana! Amin! Biar ga cuma nonton pilem. hihi.

      Delete

Post a Comment