JurnalTepungTerigu

Camping di Bedengan Malang yang Nyaris Gagal

1 comment
Camping di bedengan malang

Secara spontan Bedengan disebut dalam obrolan di grup WhatsApp sahabatku ketika merencanakan berlibur bersama. Sebelumnya sempat terjadi perdebatan antara kami yang mau camping atau mau staycation di villa. Pasalnya di grup tersebut adalah sekumpulan manusia-manusia manja yang kalau liburan jarang mau ribet. Padahal belum jadi sultan kayak Raffi Ahmad atau Sisca Kohl.  Hahaha.

Setelah melalui obrolan yang cukup panjang, akhirnya kami memutuskan untuk camping di Bedengan yang tidak begitu jauh dari pusat perkotaan Malang. Pengalaman tersebut sangat ingin kuabadikan di sini karena terjadi hal-hal yang membagongkan selama acara camping berlangsung. Lucu, memalukan, dan penuh dengan pelajaran baru.

Bedengan; Bumi Perkemahan yang Ramah Bagi Keluarga


Melakukan kegiatan camping di waktu libur adalah salah satu pilihan untuk memanjakan diri. Dan ini lah yang aku lakukan akhir pekan lalu. Akhirnya Bedengan menjadi tujuan lokasi berkemahku dengan teman-teman. 
Lokasi tepatnya berada di Godehan, Selorejo, Dau, Malang. Di sana terdapat banyak ground yang dapat dipilih sesuai selera. Ada yang letaknya di dataran tinggi, ada yang berdekatan dengan sungai. Tarif masuknya hanya membayar parkir dan uang kebersihan 20.000/motor.

Bagi keluarga yang hendak quality time, Bedengan sangat recommended untuk didatangi. Sungai dengan aliran air yang jernih dan segar membuat pengunjung merasakan relaksasi bersama alam. Terdapat banyak sekali pohon pinus yang tidak hanya meneduhkan. Namun juga menjadi spot berfoto yang aestetik.

Medan serta akses menuju ke lokasi tidak begitu sulit. Hanya saja ada beberapa titik yang jalannya lumayan rusak. Jadi harus berhati-hati. Apalagi jika datang pada malam hari. Sebaiknya pastikan lampu kendaraan benar-benar terang karena sepanjang jalan dari gang utama Bedengan minim penerangan. Jarang sekali ada rumah sebab aksesnya melewati perkebunan.

Pengalamanku pekan lalu, kondisi lampu motor sedang tidak bagus. Kurang terang, bahka bisa dibilang menyulitkan ketika melewati lorong yang amat sangat gelap. Apalagi aku berangkat sendirian seusai kerja karena teman-temanku sudah menuju duluan ke Bedengan. 

Sepanjang melewati perkebunan, hatiku dag dig dug ser. Aku tidak tahu ternyata akan sesuram itu akses jalannya di malam hari. Alhamdulillah aku tiba di lokasi dengan selamat setelah sempat putar balik di pertengahan jalan karena ragu-ragu.

Bukan Pengalaman Camping Biasa


Teman-temanku sudah sampai di tempat camping terlebih dahulu. Meskipun tidak ada teman laki-laki yang ikut acara camping ini, aku tidak khawatir. Mendirikan tenda dan menyiapkan segala kebutuhan berkemah adalah hal yang tidak sulit. Terlebih lagi sudah ada yang menyanggupi untuk memasang tenda yang kami sewa.

Sepanjang perjalanan menuju ke sana, terbersit bayangan-bayangan indah dan seru. Ya, setiap kali kami berlibur bersama, hampir selalu menyenangkan. Memberikan energi baru dan kami pun akan semakin mengenal satu sama lain.

Setibanya di Bedengan, bukan main perasaanku terasa campur aduk. Hal yang kubayangkan saat sampai di lokasi adalah menata barang bawaan di dalam tenda, kemudian membuat api unggun, barbeque-an, lalu tidak terasa random talk hingga melakukan introspeksi masing-masing di pertengahan malam.

And then, it’s totally different! Tenda masih tergeletak di tanah beserta frame dan pasaknya. Sudah satu jam lalu mereka di sana tapi progressnya masih membolak balikkan kain tenda. Berdebat mana yang harusnya di dalam, dan mana yang jadi penutupnya. Sungguh, aku kesal tapi melihat ekspresi mereka membuatku tak berhenti tertawa. :v

Waktu pun terus melaju. Kami mencoba mengutak-atik tenda yang sedari tadi belum berhasil dirangkai. Setelah diperhatikan lagi, ternyata tenda tersebut lebih besar dari yang kami perkirakan. Padahal kami memilih yang berkapasitas 6 orang. Namun petugas penyewaan peralatan camping di Malang yang kami datangi memberikan item yang berbeda.

Sudah ada niatan untuk meminta bantuan orang di sekitar, tapi kami merasa sungkan dan malu. Dan bisa dibilang ini menjadi acara liburan yang mempermalukan diri sendiri. Pergi camping, sewa tenda, tapi tidak ada yang bisa memasangnya. Wkwkwk

Di tengah-tengah kepanikan kami, tiba-tiba ada seorang pemuda yang menghampiri dan menawarkan bantuan. SubhanAllah, dia bak pangeran berkuda putih yang datang dari istana menuju hutan untuk menyelamatkan kami yang tersesat. Ya, begitu lah kira-kira posisinya dalam pikiran kami berlima. Hahahaaha.

Dia mulai merangkai satu persatu frame dan mengaitkannya pada dasar tenda. Ada dua ponakannya yang menyaksikan aksi heroik tersebut. Si bocil tiba-tiba spontan melontarkan kalimat yang membagongkan.

“Masa masang tenda ga bisa nih mbak-mbak. Aku ga mau punya cewek yang ga tahu pasang tenda,” ujarnya dengan penuh kejujuran dan kepolosan.

Kami berlima tercengang, lalu tertawa bersama-sama.

“Adek, ga boleh gitu. Tak doain nanti dapat cewek yang ga bisa pasang tenda kayak kita-kita. Hahaahaha.” Salah satu dari kami merespon dengan ekspresi sedikit tersinggung tapi lebih banyak terhibur.

Setengah jam berlalu, pemuda tampan tadi tampak kebingungan. Beberapa kali ia membongkar pasang frame yang sudah dirangkai. Aku mulai ragu pertolongannya akan menghasilkan sebuah tempat untuk kami berteduh malam itu.

Kami berlima mulai cemas, saling melempar lirikan satu sama lain. Ternyata salah satu dari temanku itu diam-diam sudah mencari list villa terdekat dan harganya terjangkau. Rasa pesimis tampak semakin kuat untuk melanjutkan camping. Aku tertawa dalam hati. Bahkan saat menulis cerita ini, aku tersenyum-senyum sedari tadi mengingat kebodohan kami.

Pangeran berkuda putih itu akhirnya menyerah. Ia mengaku bahwa tidak sanggup mendirikan tenda kami. Sulit dan rumit polanya. Namun di saat itu juga tiba-tiba datang segerombolan anak muda. Terdiri dari 4 orang yang ramah dan mudah akrab.

“Butuh bantuan, Mbak?” ucap salah satu di antara mereka.

“IYAAAAA” Kompak kami menjawabnya tanpa rasa sungkan dan basa basi. Dengan sigap mereka melakukan kerja tim untuk membangun sebuah tenda yang begitu menguji kesabaran untuk kami.

Rasa cemas yang tadi muncul berangsur hilang. Namun apakah kamu tau apa yang terjadi? Empat orang tersebut ternyata kesulitan juga merangkai tendanya. Hahaha. Sungguh tenda yang ajaib. Entah apakah benar-benar misterius atau mereka saja yang kurang terlatih dalam menangani jenis tenda yang kami bawa.

Jam menunjukkan pukul 20.30 WIB, nasib tenda kami masih belum juga terlihat bentuknya. It was so sad and made us feel tired. Sudah lebih dari 5 kali tenda tersebut dibongkar pasang. Tapi semangat 4 maba ITTAS yang membantu kami masih berkobar. Justru mereka menyemangati kami untuk merealisasikan agenda camping.

Sembari menunggu tenda terpasang yang entah masih membutuhkan berapa lama lagi, kami pun akhirnya menyalakan kompor. Mulai memasak dan barbaque-an. Hampir selesaikami mempersiapkan makan malam, akhirnya tenda pun berhasil ditaklukkan. Sungguh kebahagiaan yang luar biasa. Di antara beragam kegalauan sejak tadi sirna tiba-tiba.

Hal konyol belum berakhir. Tidak seperti pengunjung-pengunjung lainnya yang menyalakan api unggun, menyayi, bermain game yang seru, kami malah memilih untuk berdiam di dalam tenda. Bahkan bisa jadi langsung tidur jika saja tidak ada yang membuka sesi curhat saat itu. Hahahaha.

Malam itu sebelum terlelap, aku dan teman-teman karibku itu saling update kabar kami masing-masing. Saling menyemangati, menertawakan kekonyolan kami, bahkan saling mendukung atas ke-halu-an yang tiada obat. Semisal mendoakan khayalan teman yang ingin menikah dengan Han Jipyoeng. Wkwkwk

Malam kami pun di akhiri dengan beragam ekspresi. Keesokan harinya au eksplore ke beberapa spot yang ada di bedengan. Cukup banyak keluarga dan sekumpulan anak-anak muda yang juga berkemah di sana. Menjelang siang hari, aku dan teman-temanku memutuskan untuk pulang.

Kami berharap bisa membongkar tenda tanpa merepotkan orang lain lagi. Dari arah seberang sekitar 100 meter, adik-adik yang membantu mendirikan tenda mengamati kami dari kejauhan. Mungkin mereka khawatir kami tidak bisa melakukannya. Sungguh kami malu sembari menahan tawa. Lalu mereka melambaikan tangan dan mengacungkan jempolnya saat menyaksikan kami berhasil tanpa bantuan mereka.

“Yuk kapan-kapan kita lakukan lagi. Tapi di villa aja yaa!” Kalimat penutup dari salah satu dari kami itu begitu terngiang-ngiang di kepala.

Hahaha.

Tidak kusangka bahwa kami akan tertawa puas dan mengakhiri kegiatan camping di Bedengan dengan kalimat pesimistis.













Miela Baisuni
Jatuh cinta pada buku sejak sekolah menengah, menulis adalah kecintaan mulai usia yang kalau ditanya jujur terus jawabannya. Sekarang milih fotografi dan travelling sebagai pelengkap hobi sebelumnya. Nice to see you!
Newest Older

Related Posts

1 comment

Post a Comment