JurnalTepungTerigu

Kisah Manusia yang Malas Sekolah Sejak Lahir

8 comments

Tips mendidik anak yang malas sekolah

Setiap kali melihat bantal guling buluk dengan motif bunga-bunga di kamar, pikiranku otomatis teringat pada saudara bungsu. Menjadi manusia yang malas sekolah, dia sering membuatku marah. Selain karena alfa yang mencapai puluhan, berkali-kali dipanggil wali kelas sebab lalai pada tugas, ada rasa iri yang terpendam. Aku iri karena ia tetap punya kebahagiaan dengan kemalasannya itu.

Saat ini ia telah menginjak usia 17 tahun. Masa remaja yang sedang dilaluinya semakin mendatangkan cobaan. Bukan untuk dirinya, tapi bagi keluarga kami. Orang pertama yang paling hectic mengurusnya adalah ummi. sedangkan dirinya sendiri merasa tenang dengan segala keonaran yang ia buat. Ia bersenang-senang, menikmati masa remajanya.

Malas Sekolah Sejak SD

Adikku ini memang sangat berbeda denganku. Dulu di masa sekolah, aku masuk kategori anak yang rajin. Di hari-hari yang hanya ada perlombaan di sekolah, aku tetap berangkat. Bahkan ummi pernah memintaku untuk tidak usah ke sekolah karena tidak ada pelajaran namun aku tidak mau.

Bertolak belakang denganku, si bungsu ini bisa dihitung berapa kali mengikuti pelajaran. Ketidaksukaannya pada sekolah sudah tampak sejak SD. Saat di Taman Kanak-Kanak juga sebenarnya telah terlihat tanda-tanda itu.

Meskipun sekolahnya dekat dari rumah, Zain, sapaan akrabnya, selalu berhasil membolos. Hampir setiap hari tas miliknya ditemukan di tengah sawah, sedangkan orangnya entah di mana. Kalaupun dia duduk anteng di kelasnya, buku yang dibawa sering tidak sesuai jadwal. Ya sudah, dengan muka polosnya, ia pasrah. Hahaha.

Hal yang membuatku kesal berkali-kali adalah tidak adanya usaha dari dirinya sendiri. Entah ini hanya penilainku yang salah, atau memang benar dia begitu. Sejak pergi merantau ke luar Madura, aku menjadi semakin jauh dengannya. Tidak dapat memantau perkembangannya dengan baik. Ada rasa sesal yang mendalam.

Guru-guru mengenangku dengan citra yang baik. Kecil-kecil cabe rawit. Begitu sebutan mereka untukku kala itu. Aku senang dengan julukan tersebut. Akan tetapi menjadi tidak menarik lagi ketika Zain masuk ke sekolah yang sama. Setiap kali aku bersilaturahmi ke guru SD, adik yang super malas itu dibanding-bandingkan denganku. Meskipun ia tampak ceria dan bodo amat, aku tahu dan yakin bahwa ada luka di hatinya.

Bangga Dapat Nilai Jelek

Aku punya teman yang juga malas sekolah. Di kelas sering tidur. Bahkan dia melakukan hal lain seperti membaca komik atau menulis cerpen. Meskipun demikian, nilai akademiknya tidak pernah di bawah rata-rata.

Nah, giliran saudara bungsuku ini yang malasnya ga ketulungan, nilainya pun banyak yang jelek. beberapa kali saat aku pulang kampung, dia menunjukkan buku tugasnya. Waktu itu buku matematika yang ia tunjukkan.

“Ayo, Mbak goreng telur!” ucapnya tiba-tiba. Aku tercengang melihat nilainya yang buruk itu, tapi dia malah mengajakku ke dapur.

“Kata guru, itu telurnya disuruh goreng kalau sampai di rumah,” lanjutnya.

“Mana ada telur, Dek?”

“Lah itu di buku tugasku kan banyak sekali, Mbak”. Dengan senyum nyengirnya yang khas, dia justru menunjukkan sebuah lelucon di depanku yang sedang geram. Ya, aku sangat geram, tapi kini jadi tertawa sendiri mengingat hal itu. Bahkan ketika menulis ini aku tidak berhenti cekikikan. Apakah kamu juga? wkwkwkwk

Kejadian menggemaskan lainnya terjadi ketika Zain melanjutkan pendidikan di pesantren. Saat liburan tiba, aku juga sedang di rumah karena usai ujian semester. Dia menjulurkan satu buku padaku. Buku tersebut adalah laporan tahunan pencapaian santri.

Setelah kuperhatikan satu per satu, nilainya penuh dengan catatan merah dan berbagai hukuman.

“Kenapa, Mbak? Bagus ya?”

“Iya. Bagus banget yaa,” Aku mulai menekuk wajah.

“Loh iya jelas lah, Mbak. Semua jenis hukuman di pesantren sudah aku lalui. Coba itu dilihat, sudah lengkap, kan” Ia menimpaliku dengan kalimat-kalimat yang membanggakan dirinya. Seolah dia sedang memperoleh banyak prestasi.

Kalimat sumpah serapah sudah siap kulontarkan, namun kutahan. Aku manusia yang tidak sabar, sedangkan dia selalu menguji kesabaranku. Oke, aku hanya mengangguk, menghela nafas panjang, dan mengelus dada.
Alasan malas sekolah

Pecinta Gaming Salah Jurusan

Meskipun adikku selalu membuat seisi rumah kesal, kedua orang tua tetap sabar menghadapinya. Bahkan yang sangat mengherankan, mereka lebih memanjakannya dari pada kepadaku dan anak sulung mereka. Karena itu lah aku bersikap lebih tegas pada saudara bungsuku ini agar tidak kebablasan.

Kemalasannya semakin memuncak ketika dia mulai mengenal game online. Orang tua setiap hari kian sibuk bekerja membuat Zain leluasa bermain. Setiap hari pergi ke warnet, bahkan di jam-jam sekolah. Jika dulu dia sering bolos karena main kelereng dan permainan tradisional lainnya, saat ini berkutat di depan komputer.


Dari kenakalannya tersebut aku melihat sebuah potensi yang besar dalam dirinya. Hidupnya akan lebih berguna jika diarahkan pada hal yang ia sukai. Aku melihat bahwa ia sangat cekatan dengan hal-hal yang berbau teknologi. Apalagi di depannya ada komputer yang tersambung dengan jaringan internet. He shows his own powerful.

Saat hendak memasuki SMA, aku mendorongnya untuk memilih SMK dan memilih jurusan IT. Dengan begitu dia mungkin akan lebih betah di sekolah. Namun sayang sungguh sayang, anak ini malah ngotot untuk masuk jurusan IPA. Oh No! I can’t imagene it! Aku tahu betul dia sangat lemah dalam pelajaran berhitung. Apalagi harus banyak menghafal istilah-istilah dalam biologi yang susah dia cerna. (kebayang ga sih gimana dongkolnya aku waktu itu? Uggggh! sungguh pengen kujadikan remahan cemilan tengah malam nih makhluk).

Dengan berat hati, keluarga pun akhirnya mendukung keputusannya. Kami berharap pilihannya sendiri membuat ia lebih bersemangat menempuh jenjang pendidikan. Setidaknya kami telah memberikan dia kebebasan untuk membuat keputusan.

Selang setahun, masih banyak laporan dari wali kelas tentang Zain yang bolos sekolah. Kami sekeluarga berkumpul melihat isi raport si bungsu. Nilai-nilainya yang tidak mencapai angka sembilan sudah menjadi hal yang kami terima. Dia tidak bolos sehari saja sudah membuat kami bersyukur. Namun, tiba di kolom penentuan naik dan tidak naik kelas, kami semua terdiam. Tidak lama kemudian kami tertawa bersama. Entah kenapa mengalir begitu saja.

“Aku tuh memang jago membuat orang lain senang dan tertawa, hahahaha” Zain dengan bangga mengatakannya walau tidak naik kelas.

Babak Kejar Mimpi Raih Cita Dimulai

Sejak dinyatakan harus menetap di kelas X, Zain sering mendapat wanti-wanti dari ummi untuk lebih rajin belajar. Aku sempat menawari adikku untuk pindah ke SMK. Aku hanya khawatir dia tidak kuat menjalani masa sekolah yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Aku pun takut dia merasa malu pada teman sekelasnya.

Ternyata saudara bungsuku itu tetap ingin melanjutkan di sekolah yang sama. Dia bilang bahwa tidak ada rasa malu yang mengganggunya. Tahun ajaran baru pun dimulai. Dia menunjukkan kata-katanya itu. Kali ini dia cukup rajin masuk sekolah. Ah, aku baper dan terharu.

Dikarenakan tidak berhasil membujuknya untuk pindah ke jurusan yang sesuai dengan dirinya, aku akhirnya mencari alternatif lain. Bertanya pada rekan kerja dan teman-teman untuk menghadapi anak semacam adikku. Ada beberapa orang yang menyarankan menggunakan aplikasi belajar secara daring.

Dari sekian saran, aku memilih portal Kejarcita.id untuk mendukung belajar Zain. Terdapat banyak sekali materi yang bisa dipelajari di sana. Bahasanya sederhana namun komplit. start-up pendidikan ini pun menyediakan video edukasi yang bermuatan pendidikan karakter. Itu lah yang menjadi daya pikat bagiku.

Aku coba meminta Zain untuk mengaksesnya. Alhamdulillah dia suka meskipun sikap aras-arasannya kadang masih kambuh. Banyak sekali bank soal yang bisa dipelajari beserta penjelasannya. Dengan begitu, dia juga bisa mengejar ketertinggalannya selama ini. Setiap hari menyicil mengerjakan soal sebagai tambahan pelajaran di rumah.

Konon, kata temanku, Kejarcita adalah penyedia bank soal terbesar di Indonesia. Aku memilihnya sebagai media belajar adikku setelah membuktikannya. Tidak heran jika banyak para guru yang juga mengaksesnya sebagai tambahan referensi mengajar.

Aku paling tidak bisa menyimpan rahasia yang berkaitan dengan sebuah pencapaian. Jika kamu penasaran mengenai portal edukasi ini, klik segera link kejarcita.id
Aku juga melampirkan video cuplikan tentang fitur apa saja yang ada di dalamnya. Barangkali kamu butuh dan membantumu untuk tahu lebih dalam.


Adikku kini masih malas ke sekolah. Namun tingkat kebolosannya sudah menurun. Kemampuannya dalam mengikuti pelajaran juga tidak seburuk dahulu. Selain itu, ia mengembangkan potensinya di luar sekolah dengan memanfaatkan portal edukasi dan skill improvement. Salah satunya dan paling sering digunakan adalah situs yang kusebutkan di atas.

Terlepas dari segala keonaran, kekonyolan, dan rasa geram yang ia buat, aku akan selalu mendoakan dan mendukungnya selama itu baik. Kendatipun Zain terlahir sebagai manusia yang malas sekolah, tapi aku bersyukur. Terlebih lagi, aku baru tahu bahwa ia tidak menyerah untuk mengejar mimpi dan meraih cita-citanya.


Miela Baisuni
Jatuh cinta pada buku sejak sekolah menengah, menulis adalah kecintaan mulai usia yang kalau ditanya jujur terus jawabannya. Sekarang milih fotografi dan travelling sebagai pelengkap hobi sebelumnya. Nice to see you!

Related Posts

8 comments

  1. Cakeeep...enak ceritanya. Jd penasaran si adek ini bsk bakal jadi apa hehe

    ReplyDelete
  2. Kejar cita ini, semacam bimbingan belajar yah? Atau semacam PKBM?

    ReplyDelete
  3. Semangatt zaiin untuk melanjutkan cita-citanya. Pengemasan kata-katanya bagus banget mbaa, mengalir dan bikin penasaran untuk baca ceritanya sampai akhir. Aku baru dengar tentang kejar cita. Menarik nih sekarang semakin banyak platform belajar, akses untuk belajar semakin banyak

    ReplyDelete
  4. Aku langsung inget kelakuan siswa-siswa ku yang mirip Zain Mba. Lucu kalau dikenang, tapi menguji kesabaran saat dihadapi. hehehe...

    ReplyDelete
  5. Baru tahu mbak ada kejar cita. Hmm menarik,, walau ga punya adek tapi bagus juga buat sepupu atau keponakan yang sedang masa belajar

    ReplyDelete
  6. Wah keren banget. Langsung rekomenin ke anak yg masih sekolah😍

    ReplyDelete
  7. Zeeeen. Sekonyol itu ternyata

    ReplyDelete
  8. Zain ini tipe malas sekolah tapi nggak malas belajar kan ya hehe. Kalau aku suka bilang sama anak2ku, boleh kok nggak sekolah, tapi tetap wajib berpendidikan hehe. Karena sekolah hanya salah satu cara mendapat pendidikan, sementara masih banyak jalur untuk belajar selain sekolah.. misalnya kek Kejar Cita ini.

    ReplyDelete

Post a Comment