JurnalTepungTerigu

Kegalauan Ini Bernama Quarter-Life Crisis

7 comments
Definisi Quarter Life Crisis
dokumen pribadi

Kenangan akan suatu diskusi yang mempertemukanku dengan salah satu penyair Aan Mansyur di Jogja 3 tahun silam kembali muncul setelah membaca tulisan teman, Retmi Ardilla di blog pribadinya How I Beat My Freakin' Quarter-Life Crisis. Dalam diskusi tersebut hal yang paling kuingat adalah bagaimana proses pengenalan diri dan lingkungan sekitar yang dialami penyair tersebut hingga menghasilkan karya luar biasa. Salah satu puisinya yang kusuka pernah iseng kubacakan. Kamu bisa dengerin nih miela-baisuni/aku-ingin-istirahat-m-aan-mansyur.

Bang Aan, telah memilih cara hidup dengan sering berjalan kaki dari pada berlari, apalagi berkendara ke sana kemari. Kesimpulan yang aku buat dari sekian banyak menit ia berbicara, aku percaya bahwa berjalan memanglah salah satu cara yang pantas aku tiru.

Berjalan yang dimaksud di sini bukan bermakna harfiah. Bukan lantas  ke mana mana dalam kehidupan sehari-hari kita terus berjalan kaki. Namun, tanpa mengesampingkan efisiensi waktu yang kita punya, kita perlu memperlambat perjalanan di sela-sela aktivitas yang padat untuk menemukan jawaban dari pertanyaan hidup yang rumit. Terlebih ketika kita dihadapkan pada banyak kegalauan di usia 20an.

We must make a lot of decisions for our own life in this phase, such as what will we do after graduation degree, what kind of job we choose, when we will be married, and what kind of person that will match with us, etc.

Resah dan gelisah mulai bermunculan seiring usia bertambah. Apalagi kegalauan ini tidak hanya dikarenakan keresahan diri sendiri, akan tetapi juga didukung dengan bisikan orang lain tentang hidup kita. Semakin rumit lagi saat tuntutan orang tua bertubi-tubi datang sehingga membuat stress. Ini memang sangat rentan terjadi, dan bisa dibilang akan pasti terjadi pada setiap diri kita di antara usia 20-30 tahun. Kalau di ranah psikologi, fase ini disebut “Quarter-Life Crisis”. Suatu kondisi kekhawatiran yang menghasilkan mahakarya kegalauan pada seperempat dari usia kita.
Kamu baru tahu? Sama, aku juga. Hehe.

Belajar Menjadi Dewasa

Based on may past gloomy days, aku mulai mengerti bagaimana menjadi dewasa dan melewati fase yang sungguh menyebalkan ini. Keresahan yang kualami tidak hanya terjadi dalam hitungan hari, namun berbulan-bulan hingga hampir satu tahun. Selama 3 bulan pasca kelulusan dari perguruan tinggi, telah belasan lamaran kerja kuajukan namun tidak kunjung ada panggilan. Gundah gulana mulai memainkan perannya.

Sembari menunggu panggilan kerja, aku memanfaatkannya untuk menjalankan lagi rutinitas menulis setiap hari. Membuat cerpen, artikel hingga mengikuti sayembara kepenulisan. Beberapa cerpen kuberanikan diri melayangkannya ke media massa berharap bisa dimuat meski tanpa fee. Hanya mencari kepuasan dari hobi yang sedari dulu kusukai.

Menunggu berminggu-minggu hingga 3 bulan, lamaran kerjaku tak kunjung ada kejelasan, lamaran tulisanku pun pada media massa bernasib malang. Tidak ada pemberitahuan apa pun, bahkan sekadar berharap notifikasi penolakan pun seakan sia sia. Setiap hari adanya panggilan telfon dari ummi yang menanyakan perencanaan karirku. Sesekali mulai menceritakan anak tetangga di kampung halaman yang mulai menikah satu demi satu. Perbincangan kami menjadi hambar dan terdengar geli di telingaku. So, you know what I mean? Yeah!

Step Baru, Bukan Berarti Kegalauan Berakhir

Dengan tetap sabar menunggu, harapanku masih belum pupus, belum juga sekandas lagu dangdut Evi Tamala L Tepatnya Februari 2018 aku mendapat kesempatan kursus bahasa Inggris secara gratis dari sebuah lembaga di Kampung Inggris. Bagai keruntuhan buah rambutan berkilo-kilo, girang bukan main. Kegelisahanku mulai membaik. Di tengah kondisi keuangan yang semakin mencekik, minta uang mama papa sungkan, berangkat ke Kampung Inggris, Pare adalah pilihan terbaik menurutku waktu itu. Di sana aku memulai fase baru, mengasah kemampuan bahasa Inggris, mengasah juga skill menulis, dan menempa diri lagi di perantauan yang berbeda. Segelintir pengalamanku sudah pernah kuceritakan di postinganku yang ini All About Kampung Inggris: Kenangan Berharga dari Global English.

Awal-awal belajar di Kampung Inggris, semangatku membuncah. Keinginan melanjutkan S2 tumbuh dan berkarir di perusahaan idaman kembali berkobar. Namun sayangnya aku jadi plin plan tiba-tiba. Kegelisahan masih menghantui. Entah apakah ini salah satu efek dari Quarter-Life Crisis atau bukan, mungkin kamu juga mengalaminya. Terkadang sudah mantap dengan pilihan A, seminggu kemudian berubah jadi B bahkan C, lalu balik lagi ke pilihan A. Dan cara mengatasinya, aku tidak segan bertanya pada teman dekat atau orang yang lebih berpengalaman dalam memutuskan pilihan hidup.

Berjuang itu tidak bisa sendiri. Kita butuh patner dalam segala hal meskipun dengan orang yang berbeda-beda. Dan itu lah yang aku alami. Semakin bertambah usia, teman dekat semakin sedikit dan sisi idealis kita akan turun standarnya tanpa kita sadari. So that’s why jika kamu sekarang sedang mati-matian mempertahankan idealismemu, aku saranin evaluasi lagi itu. Mungkin kamu hanya butuh waktu untuk berdamai dengan standart yang tinggi dan menurunkan kadar ekspektasimu. Dalam artian, tuntutan pada diri sendiri yang berlebihan kadang kita abaikan, padahal sangat mungkin menjadi boomerang untuk keberhasilan kita.

In my opinion, Menjadi dewasa tidaklah lagi memprioritaskan kuantitas, tapi kualitas. Bukan lagi berbicara seberapa sering keberhasilan kita, namun seberapa berkualitasnya keberhasilan tersebut.

Cara menghadapi Quarter Life Crisis
dokumen pribadi


Maka dengan demikian, setelah hampir 10 bulan di Pare bersama gejolak yang tak berkesudahan, I felt at the day that I really sure about my choice. I found my belief strongly that I have never before. Perasaan tersebut muncul setelah cukup lama berbincang dengan ummi via telfon. Beliau membahas kembali perjuanganku di masa masa lalu dan bagaimana aku menemukan takdirku waktu itu. Entah kenapa hal itu benar-benar berbicara pada alam bawah sadarku. Dalam rentang waktu sepekan akhirnya aku memantapkan diri dengan pilihan baru. Awal Desember, aku kembali ke kota Malang; perantauan sebelumnya. Bertekad memilih bekerja pada kakakku dan membantunya mengembangkan usaha. Selain itu, aku juga menggeluti bidang content writer freelencer. Kalau butuh jasaku buat nulis tentang usahamu, bisa kontak aku via email yaa. wkwkwk

Meskipun dengan gaji kecil, tidak punya ruang kerja sendiri, bekerja melebihi porsi karyawan pada umumnya, aku bahagia memilih jalan ini. Aku masih punya banyak waktu untuk me-time. I do love myself and give esteem for my hard decision. Karena ternyata dengan kesederhanaan yang aku punya sekarang, aku memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang kusuka tanpa terikat dengan pekerjaan. Kupikir tidak banyak orang yang punya kesempatan ini. Maka bersyukur sepatutnyalah kulakukan sebanyak-banyaknya.

Perkataan seorang teman pun kini kuamini setelah berulang kali diucapkannya, “semakin tua usiamu, semakin memudar idealismu. Hanya perlu waktu, hanya butuh lebih penempaan diri, maka kamu akan melihat kebenarannya”.

Well, ini adalah detik detik akhir dari tulisanku kali ini. Jika kamu berharap mendapatkan solusi dari your Quarter-Life Crisis, maka tariklah benang merah sendiri dari apa yang aku ceritakan. Rasanya percuma saja kujabarkan satu persatu solusi untukmu, karena setiap orang memiliki caranya masing-masing. Mungkin melalui celoteh yang semoga bermanfaat ini, kamu terilhami atau sekadar terhibur dari kegalauan yang memporak porandakan hidupmu. Hahay!

Terima kasih telah betah hingga usai! Sampai ketemu lagi di postingan berikutnya J  

Miela Baisuni
Jatuh cinta pada buku sejak sekolah menengah, menulis adalah kecintaan mulai usia yang kalau ditanya jujur terus jawabannya. Sekarang milih fotografi dan travelling sebagai pelengkap hobi sebelumnya. Nice to see you!

Related Posts

7 comments

  1. what you have efforted so far will you reap someday, nothing is useless dear, believe it! it's all just about time

    ReplyDelete
  2. Keep following what ut heart is saying, dear! Nothing more important than ur happiness! *sending bunch of virtual loves* ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  3. Hai mila, thanks for your solution. Remember me? Your friend from UB 😊

    ReplyDelete
  4. Semakin tua emang bener, semakin nggak idealis. Setelah punya anak, standar diturunkan. Makin lama lupa dengan cita-cita.

    ReplyDelete
  5. Perjalanan hidup memang penuh misteri. Tetapi yakin semesta akan mendukung langkah kita.

    ReplyDelete

Post a Comment