JurnalTepungTerigu

Bagaimana Memulai Karir Content Writer?

5 comments
Memulai Karir Content Writer dengan Cepat

Hai, everyone!
Aku mau meracunimu tentang cara memulai karir content writer. Aku yakin bidang ini masih banyak yang merasa penuh misteri. (Aku aja masih terheran-heran kok 😆). Apalagi kalau melihat para content writer menghasilkan cuan tapi ga pernah ke kantor macam aku ini.

Semua yang akan kubagi tentu berdasarkan pengalaman yang kualami. Jadi aku kasi disclaimer dulu jika ternyata ada yang merasa tidak sesuai dengan tips dari penulis konten yang lain.

Namun sebelum membahas trik dan tips versiku, aku mau mengingatkan tentang hal-hal yang harus kamu tahu dalam dunia Content Writing. Apa saja? Simak sampai akhir!

Perbedaan Freelancer dan Employee

Saat kamu berkeinginan untuk memulai karir sebagai Content Writer, pahami dulu dua istilah tersebut. Mengapa? Karena profesi ini memberikan dua opsi berdasarkan status kekaryawanan.

Pertama, Freelancer. Dari segi bahasa, artinya adalah pekerja lepas alias pekerja serabutan. Jadi kalau ada yang bilang bekerja sebagai freelancer, itu berarti kerjaan dan penghasilannya kaga jelas, guys. (ya, biar keren aja bilangnya freelancer gitu. Hahaha). Namun bukan lantas profesi ini hina ya! Sama mulianya kok dengan pekerjaan-pekerjaan lainnya.

Biasanya, freelancer tidak terikat kontrak panjang dengan perusahaan. Mereka bekerja dari satu proyek ke proyek lainnya. Terdapat banyak sekali bidang yang dapat dipilih oleh si pekerja lepas. Nah, content writing masuk salah satu opsinya. Pilihan kerjaan lain meliputi design grafis, fotografi, videografi, translating, programming, voice over, acting, dan masih banyak lagi.

Sebagian dari freelancer memilih untuk fokus di satu bidang. Namun sebagian lain bisa jadi melakukan banyak jenis pekerjaan selagi menghasilkan cuan. Nah, kalau aku pribadi saat ini memutuskan untuk fokus freelancing di dunia kepenulisan konten website dan media sosial.

Lalu bagaimana dengan employee? Jenis status pekerjaan ini biasa dikenal dengan pekerja atau karyawan tetap. Ada tugas menumpuk ataupun tidak, mereka tetap digaji. Bekerjanya tidak dihitung per proyek, namun per jam. Lebih banyak aturan yang harus dipatuhi oleh employee karena mereka dikontrak oleh perusahaan dalam jangka panjang. Paling sedikitnya satu tahun.

Gimana? Bingung ga? Butuh obat pening? 😃 

Sistem kerja on-site vs remote working

Sistem Kerja On-site vs Remote Working

Haduh ini istilah apa lagi yak? Begitulah yang kegundahan yang memporak porandakan otakku saat memulai karir. Memang tidak ada kelas khusus yang membahas tentang sistem kerja ini. Pintar-pintarnya kita saja mencari informasi. Sebab, kata on-site dan remote working ini pasti akan sering kamu temukan saat mencari lowongan kerja content writer.

Jadi begini, dua istilah di atas adalah model kerja yang bisa menjadi pilihan seorang freelancer maupun employee. Bisa on-site, bisa remote working. Kalau on-site, pekerja harus datang ke kantor perusahaan tempat ia bekerja. Sedangkan remote working tidak wajib ke kantor, tapi bekerja dari manapun dia suka. Terlebih lagi yang merekrut adalah perseorangan, bukan perusahaan. Selama pekerjaan kelar, ya tuntas tanggung jawab dengan atasan atau klien. 

Komunikasi yang dilakukan serba online. Bahkan seringkali antar kolega tidak pernah saling bertemu dan hanya mengandalkan kepercayaan. Aku sering ditanya di mana tempatku bekerja. Dan jawabanku hampir selalu sama; di kamar 😄 . (Tolong jangan anggap manusia macam aku ini sedang memelihara tuyul. Aku kerja, guys! Kerja!)

Sistem kerja on-site berlaku pada sebagian besar karyawan tetap. Namun ada pula freelancer yang diharuskan oleh pihak perusahaan untuk datang ke kantor selama kontrak berlangsung. 

Jadi kalau ada lowongan kerja dengan dua istilah ini, kamu sudah bisa langsung memutuskan untuk mengirimkan lamaran atau tidak. Jika tidak tercantum, maka sebaiknya tanyakan terlebih dahulu kepada tim rekrutmen. Sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuanmu.

Sistem remote working ini adalah favorit aku. Pernah pengalaman kerja on-site, aku tidak ingin melakukannya lagi. Next time, aku akan berbagi lebih detail bagaimana pengalamanku menjalani sistem kerja remote working. Sekarang secara umum saja dulu ya! Muehehe.

Cara Memulai Karir Content Writer

Oke, sampailah kita pada pembahasan inti yang kamu nanti-nati. Iya, kan? Coba tinggalkan komentar buat para calon content writer biar kita saling kenal. Sekali lagi, semua yang aku tulis di postingan ini berangkat dari pengalaman pribadi. Dan inilah 7 tips yang bisa kubagi denganmu untuk memulai karir content writer:

1. Membaca, Lalu Membaca, Terus Membaca

Ibarat kendaraan bermotor, membaca adalah bensinnya. Jika langkah ini kamu skip, ya jangan berharap untuk jadi penulis. Apalagi bidang content writing harus selalu update dengan informasi terkini dan peka pada gaya-gaya kepenulisan kekinian.

Seseorang yang memilih profesi ini secara tidak langsung siap untuk melahap banyak bacaan setiap hari. Oleh karena itulah aku melakukannya. Karena kalau sehari saja tidak baca, proses menulisku akan mandek. Seringkali macet saat nulis karena kurang referensi. Biasanya aku membaca konten berita, tulisan fiksi, dan konten trivia secara berimbang.

2. Menulis, Menulis, dan Menulis

Menulis adalah ruhnya seorang content writer. Kalau tidak menulis, ya mana bisa menghasilkan ribuan kata setiap hari. Maka dari itu butuh pembiasaan. Sebelum mendapat banyak proyek nulis berbayar, aku sering menulis meskipun tidak dapat cuan. Salah satu yang menjadi media menulisku adalah IDN Times.

Berkat dua artikel yang berhasil tayang di sana, aku berkesempatan menjadi pengisi konten website Global English. Meskipun tidak digaji berupa uang, namun aku mendapat fasilitas belajar bahasa Inggris di Pare hingga 10 bulan.

Kesempatan tersebut tentu sangat berharga dalam proses pencarian jati diri dan memulai karir. Jadi, buat kamu yang masih hendak melangkah pada bidang ini, pastikan kamu suka menulis dan siap untuk terus menulis meskipun awalnya tidak menghasilkan uang.

3. Mengikuti Workshop Content Writing Berbayar

Kenapa harus berbayar? Bagiku, setiap kita ingin mendapat yang lebih dari biasanya, ya harus keluarkan budget dong! Selama masa sekolah dan kuliah, aku sering ikut pelatihan dan workshop kepenulisan gratisan. Namun setelah selesai kursus di Kampung Inggris, aku tergerak untuk ikut yang berbayar. Dari kelas tersebut, ada arahan untuk membuat portofolio karya. Kemudian kukumpulkan tulisan-tulisanku selama di Kampung Inggris untuk portofolio tulisan.

Kemudian tidak lama setelah itu, penyelenggara workshop membuat grup untuk para peserta. Si pembicara sering membagikan info lowongan kerja berkaitan dengan Content Writer. Dari info-info tersebut, aku kirim lamaran dan portofolioku. Alhamdulillah, ada yang lolos dan untuk pertama kalinya aku resmi jadi freelance content writer.

Aku berkesimpulan bahwa kesempatan tersebut kudapatkan karena aku melakukan effort lebih banyak. Uang yang biasanya untuk jatah kuota internet, kualihkan pada biaya kelas menulis.

Peluang Menjadi  Content Writer

4. Mencari Peluang di Berbagai Platform

Saat ini banyak sekali platform untuk para freelancer yang mencari pekerjaan bidang tulis menulis. Cobalah menjelajahinya agar kamu punya lebih banyak gambaran. Baik dari segi cara kerja, nilai pendapatan, dan susah gampangnya jadi content writer. Kamu akan semakin paham bagaimana menata diri untuk menjalani profesi ini.

Aku dulu terjun di Sribulancer dan Projects.co. Sayang sungguh sayang, aku tidak pernah berhasil dapat job di sana karena persaingan yang sangat ketat. Kesalahanku adalah mencari pekerjaan di platform tersebut tanpa mengantongi banyak pengalaman menulis konten website. Kalau sekarang sih aku yakin akan banyak prooyek yang kudapat jika balik lagi mengaksesnya. Namun aku malas karena bayarannya sangat murah, guys! Ya, kalau tidak ada lagi kerjaan, mungkin akan melakukannya. Hahaha.

5. Bergabung dengan Komunitas Content Writer

Selanjutnya perluaslah wilayah bermainmu dengan bergabung di komunitas yang mendukung. Selain saling belajar dan berbagi tips dalam hal tulis menulis, kamu juga akan mendapat peluang proyek yang sangat banyak. Aku sendiri sudah mengalaminya. Alhamduliah, dari bayaran yang sangat murah, kini aku mulai mendapat kontrak menulis dengan bayaran yang lebih manusiawi.

Relasi sangat penting, namun tetap fokus meningkatkan kualitas tulisan kita. Karena dari kualitas tersebut kita akan dipertemukan pada keberuntungan melalui relasi.

6. Fokus Pada Pengalaman, Bukan Penghasilan

Bagi content writer pemula, fokuslah terlebih dahulu pada pengalaman. Perkara dibayar murah atau pun mahal urusan belakangan. Pegalaman adalah investasi berharga yang tidak akan pernah bisa digantikan dengan materi.

Proses ini adalah langkah untuk mengumpulkan dan memperbanyak portofolio tulisan. Percayalah, semakin banyak portofoliomu, akan semakin mudah proyek berdatangan. Awalnya kamu harus melayangkan lamaran di sana sini, memperlihatkan contoh tulisan yang pernah dibuat. Bahkan tema apapun digarap meskipun tidak banyak kamu kuasai dan tidak kamu suka.

Namun seiring berjalannya waktu, asalkan sabar dan tekun, akan ada moment di mana kamu yang dilamar untuk mengerjakan banyak konten. Aku sudah merasakannya. Sungguh sangat menyenangkan!

7. Menentukan Ratecard Setelah layak Naik Level

Setelah cukup banyak konten yang kamu kerjakan, maka kumpulkan dan kelompokkan berdasarkan temanya yang sama. Jangan lupa untuk mempostingnya di media sosial sebagai personal branding. Buatlah portofolio online agar mudah disebarluaskan. Kalau aku menyematkannya di bio Instagram.

Setelah itu mulailah buat ratecard alias harga jasa menulis yang harus dibayar oleh klien. Lakukan ini setelah kamu layak naik level. Dalam artian, kamu sudah dianggap berpengalaman setidaknya satu tahun dalam bidang content writing. Dan kamu sudah pernah menghandle konten website dari salah satu perusahaan, bukan hanya perseorangan. Mengapa demikian?

Jika kamu membuat ratecard sebelum punya banyak portofolio, maka bisa kubilang kamu itu kepedean, guys! Wkwkwk. Apalagi bikin pricelist saat masih akan mulai karir ini. Mon maap, kelayakan harganya situ hitung dari segi apa? Kalaupun mau bikin, ya ga papa sih, tapi jangan kemahalan yee!

Bagi kamu yang tertarik pada bidang ini, semoga dimudahkan. Upayakan untuk selalu melibatkan Tuhan dalam setiap usahamu. Dikarenakan ini sifatnya personal, makanya tidak aku cantumkan dalam list tips dan trik di atas. Tapi sungguh kekuatan doa itu sangat berperan dalam karirku.

Itulah caraku memulai karir content writer. Aku memilih freelancing dan bekerja secara remote working. Kalau kamu mulai menekuninya, apakah yang akan kamu pilih?
Miela Baisuni
Jatuh cinta pada buku sejak sekolah menengah, menulis adalah kecintaan mulai usia yang kalau ditanya jujur terus jawabannya. Sekarang milih fotografi dan travelling sebagai pelengkap hobi sebelumnya. Nice to see you!

Related Posts

5 comments

  1. masih belajar nulis dulu kak, belum sanggup jadi content writer hehe

    ReplyDelete
  2. Waaaah aku lagi cari ini kebetulan mbak, beberapa hari yang lalu mau menambah pundi pundi penghasilan huhuhu xD btw aku jadi semakin paham ada komunitasnya content writer yak. Udik banget aku tuh

    Komunitas emang membantu banget sih, beberapa kesempatan ini aku jadi banyak gabung komunitas biar semangat selali on. Soalnya motivasi pribadi masih rendah 😞😞

    ReplyDelete
  3. Terimakasih mba Miela artikelnya sangat jelas membahas mengenai karir menjadi content creator. Kalau aku disuruh memilih, aku pilih yang freelancer dan remote working, hehe.

    ReplyDelete
  4. waah menarik sekali ini, kalau disuruh milih aku juga mau pilih freelancer dan kerjanya remote working. Apalagi punya krucil yang harus diemong. makasih ya tipsnya. manfaat sekali.

    ReplyDelete
  5. Kepengen banget nih jadi content writer. Penting banget ya srlalu belajar dan selalu update

    ReplyDelete

Post a Comment