JurnalTepungTerigu

Melatih Delay Gratification untuk Kepuasan yang Tidak Sesaat

9 comments

Menerapkan-delay-gratification


Kualitas tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh orangtua dan didikan guru. Dalam hal mengontrol kemauan serta menahan emosi, anak harus dilatih dengan cara yang sentimental. Ada sebuah istilah Delay Gratification yang berkaitan dengan latihan menahan kemauan dan kepuasan. Konsep ini berkonsentrasi pada bagaimana manusia menunda kesenangan saat ini agar mendapat kesenangan yang lebih besar suatu saat nanti. Terlebih bisa meraih cita-cita dan menikmati kebahagiaan di masa tua versi kita sendiri.

Mengenal Delay Gratification

Seorang pakar psikologi Walter Mischel menyatakan bahwa ia dan beserta rekan risetnya mendapatkan kesimpulan menarik dari Delay Gratification. Para remaja yang sering menunda kepuasan di masa prasekolah ternyata mampu menunjukkan potensi akademik dan kemampuan bersosial yang lebih baik 10 tahun kemudian. Selain itu, mereka juga mampu menahan diri dari godaan dan tidak mudah frustasi.

Sebagaimana banyak dijelaskan juga dalam berbagai blog pendidikan, istilah Delay Gratification muncul setelah Mischel melakukan penelitian panjang yang berkaitan tentang kemampuan menunda kepuasan. Riset ini dia lakukan pertama kali pada tahun 1970 dengan sebuah uji coba pada anak-anak berusia 4-5 tahun. Mereka disatukan dalam suatu ruangan yang sangat tertutup.

Anak-anak tersebut ditawari marsmallow yang diletakkan di hadapan masing-masing. Mischel membolehkan mereka untuk memakannya setelah ia keluar ruangan. Namun jika mereka tidak memakan marsmellow hingga Mischel kembali, maka akan hadiah yang akan didapatkan.

Psikolog itu pun keluar ruangan selama kurang lebih 15 menit. Setelah kembali, ternyata banyak anak-anak yang memilih untuk menghabiskan mekanan di hadapan mereka. Hanya beberapa anak yang menahan diri demi mendapatkan hadiah dari Mischel. Anak yang menunggu Mischel datang lagi ke ruangan disebut olehnya memiliki kekuatan Delay Gratification yang tinggi. Mereka berhasil menunda kepuasan saat ini untuk mendapat sesuatu yang lebih berharga suatu saat nanti. Eksperimen ini diberi nama dan terkenal dengan sebutan The Marsmellow Test. 

Dampak Positif Delay Gratification Pada Anak

Pengendalian diri untuk melakukan atau menahan keinginan untuk memuaskan diri bukanlah bawaan sejak lahir. Karakter ini bisa terbentuk terjadi dalam proses tumbuh kembang anak. Jika berhasil ditanamkan sejak dini, skill menunda kepuasan bisa bertahan hingga seumur hidupnya. Melekat kuat dan memberi pengaruh yang besar pada setiap tahap yang dilalui anak.

Berikut ini adalah 7 dampak positif yang akan dialami oleh anak jika melakukan Delay Gratification: 

1.      Visioner atau Berorientasi Pada Masa Depan

Sebagaimana diilustrasikan dalam eksperimen Mischel, menahan diri untuk kepuasan saat ini dapat memetakan pikiran yang jauh di masa depan. Tidak makan marsmellow sekarang, anak justru tetap mendapat makanan tersebut plus hadiah setelah bersabar.

Anak yang sering melakukan Delay Gratification akan cenderung menjadi visioner. Mereka lebih memprioritaskan kepuasan yang lebih besar meskipun harus menunggu lebih lama.

Pencapaian yang diraih pun akan berbeda antara proses yang instan dan proses yang panjang. Kualitas beserta kuantitas hasil yang didapatkan akan jauh lebih memuaskan. Menunggu lebih lama demi masa depan yang terjamin.

2.        Bertanggung Jawab Pada Setiap Keputusan

Konsep kontrol diri ini ternyata membentuk diri anak menjadi bijaksana dalam membuat keputusan. Ia meyakini bahwa setiap yang dilakukannya akan selalu menjadi penentu nasibnya di masa mendatang. Keputusan untuk melaksanakan sesuatu saat ini atau menundanya dilakoni dengan penuh tanggung jawab. Terlebih ketika dia diberi amanah. 

3.        Memiliki Motivasi Tinggi

Dampak ini yang akan sangat menguntungkan bagi anak. Pasalnya, motivasi selalu dibutuhkan manusia untuk mencapai goals dengan semangat. Motivasi yang tinggi dapat dimiliki apabila sering melatih menunda kepuasan. Terlebih kepuasan tersebut sifatnya tidak berdampak jangka panjang.

Semisal ketika harus mengerjakan bank soal yang diberikan oleh guru. Ia tidak sekadar menjawab soal-saol tersebut. Namun ia juga mempelajarinya secara mendalam. Tanpa harus didukung penuh oleh orang-orang di sekitarnya, anak dengan sendirinya menjadi mandiri. Berusaha sepenuh hati dengan motivasi dirinya yang menggebu-gebu. Tidak kah hal tersebut sebuah anugerah yang luar biasa?

4.        Berhati-Hati dalam Membuat Rencana

Seremeh apapun kegiatan yang hendak dilakukan anak, rencana tidak asal dibuat. Sanat berhati-hati memang tidak baik jika berlebihan. Namun pada konteks ini, anak yang terbiasa menunda kepuasan selalu berorientasi pada masa depan. Ya, sebagaimana disebut dalam poin pertama.

Tidak jarang masalah besar terjadi dikarenakan abai hal yang dianggap sepele, perencanaan yang abal-abal, dan terburu-buru tanpa menyortir ulang keputusan yang telah dibuat. Tidak harus sempurna, terpenting apa yang kita lakukan dilakukan secara optimal meskipun kemungkinan berhasil sangat kecil. 

5.        Cerdas dalam Mengontrol Terpaan Stimulus

Dampak positif berikutnya adalah mengasah kecerdasan berpikir anak dalam mengontrol diri. Terutama ketika dihadapkan dengan stimulus atau rangsangan yang negatif. Berkenaan dengan ini, Walter Mischel melanjutkan uji cobanya dengan terus mengamati subjek risetnya.

Dari penelitian tersebut, didapatkan hasil bahwa anak yang sering melakukan Delay Gratification punya tingkat pertahanan yang lebih tinggi saat dewasa. Mereka berhasil berjuang melawan godaan alkohol dan narkoba.

6.        Dewasa dalam Berpikir dan Bertindak

Seiring bertambahnya usia, pola pikir anak tidak selalu menjadi dewasa sesuai umurnya. Dengan melatih penundaan kepuasan pada anak sejak kecil, mereka dituntun untuk lebih berhati-hati dan bijak dalam mengambil keputusan. Hal ini sangat berkaitan erat dengan dampak-dampak positif yang sudah dijelaskan sebelumnya.

7.        Cerdas Bersosial

Untuk bisa diterima dengan baik di masyarakat, skill bersosial harus dimiliki anak. Seiring tumbuh kembangnya, anak pasti harus dilepas untuk mandiri bermasyarakat. Jika Anda selaku orangtua mengkhawatirkan hal tersebut, maka sepatutnya lah menerapkan Delay Gratification pada anak. Selain untuk mendidik mereka agar tidak ceroboh dan boros, anak lebih mudah menjalin relasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Orangtua maupun guru tidak serta merta menjejali anak untuk melakukan Delay Gratification. Menunda kepuasan adalah skill yang perlu dilatih dan didukung dengan beberapa faktor agar berperan optimal. Adapun faktor yang mempengaruhi proses penundaan kepuasan adalah kematangan usia dan pola pikir, level stress yang dialami anak, serta pola pengasuhan orangtua yang berimbang antara nasehat dan aksi nyata.

Delay Gratification merupakan sebuah opsi yang tidak harus selalu dilakukan. Setiap individu bebas memilih untuk menerapkannya atau tidak. Pertimbangkan ketika kita memiliki sesuatu yang diinginkan saat ini juga atau memutuskan untuk menahan agar dapat hal yang lebih besar dan lebih baik. Hal mana yang lebih dibutuhkan? Pemikiran seperti ini juga perlu disampaikan kepada anak saat hendak mengajarkan konsep Delay Gratification padanya.

 

Miela Baisuni
Jatuh cinta pada buku sejak sekolah menengah, menulis adalah kecintaan mulai usia yang kalau ditanya jujur terus jawabannya. Sekarang milih fotografi dan travelling sebagai pelengkap hobi sebelumnya. Nice to see you!

Related Posts

9 comments

  1. Orang-orang yang lulus test delay gratification pastinya termasuk orang-orang yang sabar sekali dalam menghadapi sesuatu, and it's so hard but possible

    ReplyDelete
  2. aku baca ini bayanginnya ka miela wkwk, sepertinya cocok. tapi aku susah nih mau gini. habis baca ini jadi takut, masa depanku gimana wkwk, jadi aku harus belajar lagi nih tntang delay ini

    ReplyDelete
  3. Seru kalau pakai ini ke anak2, keliatan mana yang bisa sabar, mana yang maunya instan. Jadi aware mana yang perlu diarahkan mana yang bisa cukup mandiri

    ReplyDelete
  4. kayaknya waktu kecil aku sering delay gratification karena keadaan, ternyata bagus juga ya untuk perkembangan diri

    ReplyDelete
  5. Kebetulan banget baru aja ikut webinar tentang Marshmallow test itu. Ternyata pengaruhnya juga the Executive Function Skill dan salah satu penyebabnya adalah helicopter parenting

    ReplyDelete
  6. keren banget mbaaak pembahasannya, kaya mengajarkan sabar ke anak untuk dapat sesuatu yang lebih besar

    ReplyDelete
  7. Mba miela ternyata bagus banget informasinya. Aku sering liat video-video tentang ini, ternyata namanya dealy gratification. Manfaatnya bagus banget buat anak di masa depannya.

    ReplyDelete
  8. Baru tau istilah ini, taunya cuma menunda kesenangan. Penting banget ternyata mengajarkan anak tidak semua keinginan itu bisa langsung dipenuhi

    ReplyDelete
  9. Kayaknya aku kecil gini deh mbak hahahaha karena keadaan sih faktor utama, kepepet tapi akhirnya terbiasa

    ReplyDelete

Post a Comment