JurnalTepungTerigu

Memaknai Hari Blogger Nasional; Bersiaplah Hilang dari Bumi!

4 comments

Merayakan Hari Blogger Nasional dengan Menulis

Dari Semanggi Barat, Kota Malang yang saat ini sedang gerimis, aku sedang bersemangat untuk menulis. Sebelum itu, aku bangun tidur dengan perasaan jengah. Setelah sekilas melihat notifikasi yang masuk di WhatsApp group Blogspedia Coaching for Newbie, peserta beramai ramai mengucapkan selamat. Bukan karena aku sedang ulang tahun, tapi kami semua sedang berulang tahun. Hari ini ternyata adalah Hari Blogger Nasional. Dan aku baru tahu akan hal itu setelah bertahun-tahun punya blog. Mon maap terkadang hidup memang sekonyol itu. wkwkwkwk.

Dalam rangka merayakan Hari Blogger yang secara resmi ditetapkan di tanggal 27 Oktober, ada acara Maraton Coaching dari Growthing.id yang bekerja sama dengan BRT Network. Jika bukan karena ikut webinar tersebut, aku mungkin tidak akan ngeh adanya hari spesial ini. Materi yang diberikan sangat menarik sehingga membuatku semakin menggebu untuk menekuni blogging. Aku pun ingin merayakan momen berharga ini meski dengan hal sederhana.

Caraku Merayakan Hari Blogger Nasional

Setelah mendengar informasi mengenai datangnya Hari Blogger Nasional, aku bergegas menyalakan laptop. Momentum ini tidak boleh kulewatkan. Bagiku, hari ini adalah kenangan yang harus kuabadikan dalam tulisan. Setelah puluhan musim aku menghilang dari dunia per-blogger-an, tidak menyangka aku merasa menemukan kesempatan yang luar biasa.

Aku seakan mendapat dukungan dari semesta untuk menekuni bidang ini. Meskipun di masa sekarang jumlah blogger tidak sefantasis dulu, aku tidak peduli. Hal yang kupedulikan hanyalah diriku sendiri yang tidak boleh melewatkan kesempatan ini (sisi egoisku muncul pemirsaaah). Aku yakin blog ini adalah tempat yang tepat dan layak untuk menampung tulisan-tulisanku.

Sebagai langkah awal memulai kiprahku dan merayakan Hari Blogger Nasional, aku ingin berbagi tentang perjalanan menulis yang sudah kulakukan. Pencapaian yang kutempuh belumlah apa-apa, namun bagiku prosesnya sangat tidak biasa. Sebelum kulanjutkan, kusarankan kamu membacanya sembari menyalakan musik favorit. Oh, why? Antisipasi saja sebagai pengingat jika ternyata tiba-tiba nanti kamu merasa menghilang dari muka bumi. Hahaha. Tulisan ini kok jadi ngelantur yaa.

Berpuisi di Perpisahan Taman Kanak-Kanak

Perenungan mengenai kapan minat dan bakat menulisku bermula telah kulakukan berkali-kali. Namun hasil kontemplasi itu tidak terlalu signifikan. Entah kenapa di pagi hari ini saat aku membasuh mukaku untuk mendulang energi, aku menemukan ingatan yang tepat. Aku yakin semua ini dimulai sejak aku mendeklamasikan sebuah puisi di acara lepas pisah. Saat itu aku masih usia 5 tahun dan menempuh pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK).

Puisi yang kubacakan berjudul Muhammad. Ya, aku sangat ingat judulnya namun tidak dengan isinya. Aku pun ingat saat itu kostum yang kukenakan serba jingga dengan motif polkadot rancangan ibuku. Sebuah OOTD yang sangat nyentrik yang bukan ‘aku banget’ di masa sekarang. Hahahaha.

Aku merasa setelah diberikan mandat untuk membaca puisi tersebut, jiwa seniku tumbuh. Aku dikenalkan pada literasi yang indah dan jatuh cinta pada sastra secara tidak disengaja. Ajaibnya, aku selalu ingin menangis ketika membahas kenangan ini. Begitu pun saat aku menulis dan mengantarmu pada kalimat ini, aku bersyukur dan menangis haru.

Kenangan Lucu; Debut Menulis Curhatan

Aku tidak pernah diajari untuk menulis catatan harian oleh guru maupun keluarga. Tidak juga membeli buku khusus curhatan. Buku pertama yang kupakai adalah bekas buku hutang ibuku yang bahkan kondisinya sudah lusuh. Aku pun baru sadar kalau itu buku hutang setelah membacanya lagi di masa sekolah menengah 😂 Seingatku, debut menulis curhatan dimulai saat kelas V. Bercerita seputar kesedihanku karena tidak diizinkan ikut rekreasi ahir tahun. Kadang juga tentang rasa iri terhadap kakak kandungku yang sering jalan-jalan.

Kenangan lucu lainnya berkaitan dengan menulis yakni menulis surat. Surat yang kutulis bukan untuk temanku. Melainkan surat itu untuk teman spesial dari temanku. Ibaratnya, aku dulu dianggap anak yang jago dalam bernarasi dan menulis kata-kata indah. Alhasil aku jadi korban bucin teman sekelas yang ingin tampak romantis. Hahahahaha. Apakah kamu punya pengalaman yang serupa? Ceritakan di kolom komentar ya!

Pushee, Si Kucing Malang dalam Cerpen Pertamaku

Kegiatan menulisku terus berlanjut setelah lulus dari sekolah dasar. Tidak hanya mengisi diary, aku mulai meningkatkan skill dengan menulis cerpen. Dengan amat polos kuberanikan diri mengikuti lomba cerpen saat acara Class Meeting. Tokoh yang ada pada cerpen pertamaku adalah seekor kucing bernama Pushee. Aku sudah lupa detail ceritanya. Intinya ia adalah kucing malang yang melakukan pencarian tempat tinggal. (Ya ampun keliatan banget kepolosanku dulu 🙉😆).

Tidak disangka-sangka cerita tersebut menjadikan aku sebagai juara 2. Meskipun faktanya menang kompetisi di antara peserta yang jumlahnya tidak sampai 10 orang, aku tetap bangga. Karena prestasi tidak selalu dilihat dari kuantitas, namun kualitas. Sejak saat itu aku semakin giat menulis dan mulai memperkaya diri dengan membaca buku.

Menangisi Piala Pertama Membawa Berkah Jadi Kru Majalah

Kisah pengalaman menulis yang kualami penuh suka duka. Berlanjut ke jenjang Madrasah Aliyah (MA), aku terus upgrade kemampuan. Momen mengesankan di masa itu juga seputar perlombaan. Aku ikut lomba cerpen spontanitas. Dalam durasi dua jam, aku harus merangkai cerita sesuai dengan tema yang ditentukan panitia saat hari H perlombaan. Sungguh menantang dan menyulitkan. Tapi pada akhirnya jadi menyenangkan karena aku jadi pemenang. Wkkwkwk

Di pesantren tempatku nyantri dulu, hal-hal yang berkaitan dengan literasi sangat diapresiasi. Lomba class meeting saja pemenangnya mendapat piala. Sungguh mengesankan. Dari saking girangnya aku menjadi menangis histeris saat ada yang membuat patah pialaku. Aku tidak tahu siapa pelakunya. Kejadian tersebut membuatku sangat geram dan terpukul. Meskipun piala yang kudapat hanya setingkat sekolah, tapi tetap sangat berarti. Ibuku tahu mengenai patahnya piala. Beliau membawanya pulang tanpa berkomentar apapun. Saat liburan tiba, mataku mengembun dan tak bisa dibendung ketika melihat pialaku terlihat baik-baik saja di lemari. Ternyata ibu mengelemnya tanpa sepengetahuanku.

Tidak lama setelah itu, aku dikejutkan dengan datangnya sebuah surat recruitment. Aku direkrut menjadi salah satu kru majalah pesantren. Semakin mengejutkan, aku adalah satu-satunya kru yang masih kelas IX. Kru lainnya mayoritas MA dan mahasiswa. Sungguh pengalaman dan perjuangan yang luar biasa. Berada di antara orang-orang yang lebih dewasa itu tidak lah mudah. Berusaha menjangkau obrolan mereka dan menguasai materi di setiap edisinya.

Aku harus bekerja dua hingga tiga kali lipat untuk memahami lebih cepat. Usahaku tidak sia-sia. Kurang lebih satu tahun berikutnya aku direkrut menjadi pengurus ranting Forum Lingkar Pena (FLP) yang ada di pesantren.

Berkenalan dengan Blogger Hingga Menjadi Content Writer

Semenjak menjadi bagian dari FLP, aku mulai mengenal blog. Saat itulah muncul keinginan untuk menjadi blogger (btw dulu aku ga tau istilah ini, bilangnya jadi penulis blog gitu lah. muehehe). Namun belum serius seperti sekarang yang mana hanya menulis tanpa memperhatikan performa blog apalagi mengotak atik SEO. (Maklum yee, dulu mah masih jauh dari peradaban).

Aktifitas blogging sempat tersendat-sendat setelah masuk dunia kampus. Namun aku tidak berhenti mengikuti forum-forum kepenulisan. Selama kuliah aku sangat aktif di UKM Pers Civitas. Di sana aku menempa diri sangat keras karena harus menulis non-fiksi. Hal itu karena sebelumnya lebih terbiasa dengan tulisan-tulisan fiksi.

Setiap bulan pasti ada hari-hari yang mewajibkan begadang untuk menerbitkan bulletin. Melakukan liputan, rapat redaksi setiap hari, bahkan terancam cekcok dengan pengurus BEM saat tulisan kami mengkritik kinerja mereka. Hahaha. Dulu terasa seram, tapi sekarang jadi lucu.

Untuk mengimbangi dan merawat skill dalam tulisan fiksi, aku mengikuti kegiatan kepenulisan di luar kampus. Alhamdulillah di tahun 2015 lolos seleksi untuk mengikuti pelatihan Kampus Fiksi dari Diva Press. Cerpen yang kuikutkan sesi seleksi berjudul Nyanyian Pagi di Victoria. Dari pelatihan itu, lahirlah juga sebuah antologi bersama Kampus Fiksi angkatan 13. Bisa kamu baca juga di sini.

Kemudian fase berikutnya adalah setelah kelulusan strata 1. Ini bagian yang juga tidak kalah mengesankan karena mulai mengalami terpaan Quarter Life Crisis. Banyak sekali lika liku yang kujalani berkenaan jalan menuju karir menulisku. Setahun setelah mengembara, mencari dan terus mencari jalan yang tepat, akhirnya aku menjadi freelance content writer. Pengalamanku di bidang ini akan aku tulis di postingan khusus. Ditunggu ya! (dalam hati dag dig dug takut ga terbit-terbit).

Menikmati karir sebagai content writer memberiku banyak ilmu baru. Termasuk tentang SEO-friendly dan hal-hal lain mengenai blog. Semakin banyak dan beragam job tulisan yang kudapatkan, rasa penasaranku kian meningkat. Lalu beberapa bulan terakhir aku terpikirkan lagi untuk menengok blog ini. Miris sekali melihatnya. Bak rumah ditinggal merantau, di dalam jadi terasa horror, guys! Akhirnya aku memutuskan untuk perlahan merawat lagi blog ini dan meningkatkan performanya. Alasan blogging pun kumantapkan lagi agar lebih serius. Aku juga sudah menulisnya dengan judul Serba-Serbi Pergolakan Batin Hingga Memutuskan untuk Blogging.

Tidak terasa jam menunjukkan pukul 21.00 ketika aku hendak mengakhiri cerita ini. Perayaan Hari Blogger Nasional ternyata cukup membuat tanganku ngoceh panjang lebar. Aku sungguh menikmatinya meskipun dengan menyicil paragraf demi paragraf di sela pekerjaan yang lain. Memaknai momentum ini seakan menyeretku pada dunia lain di luar bumi. (Tiba-tiba aku tolah toleh memastikan keadaan sekitar. Jangan-jangan kamu juga begitu. Haha).

Aku sungguh penasaran. Apakah kamu membaca postinganku hingga kalimat ini? Bagaimana rasanya? Apakah sesuai dengan disclaimer yang kukatakan di awal? Jika ternyata kamu merasa hilang dari muka bumi, semoga bisa kembali dengan pikiran waras. Wkwkwk.

.
Miela Baisuni
Jatuh cinta pada buku sejak sekolah menengah, menulis adalah kecintaan mulai usia yang kalau ditanya jujur terus jawabannya. Sekarang milih fotografi dan travelling sebagai pelengkap hobi sebelumnya. Nice to see you!

Related Posts

4 comments

  1. Mba, banyak banget pengalamannya tentang kepenulisan. Udah banyak makan asam garam lah. Sekarang FLP masih ada ga sih mba? Dulu waktu aku SMP liat novel ada lambang FLP itu wow banget. Keren-keren terbitan FLP

    ReplyDelete
  2. MasyaAllah, luar biasa pengalamannya, Mbak.

    ReplyDelete
  3. Masyaallah barokalloh keren,..suka nuansa hitam abu-abu dan putih nya,.

    ReplyDelete

Post a Comment