JurnalTepungTerigu

KEENAM: Berceceran Apresiasi Remeh Temeh

Post a Comment

Sumber gambar: arsip pribadi

 
#TANTANGAN MENULIS 10 HARI BERSAMA KAMPUS FIKSI

Apresiasi merupakan satu hal yang begitu penting dalam membangkitkan dan mempertahankan semangat seseorang dalam memperjuangkan sesuatu yang ingin diraih, sekecil apapun itu. Bukan seberapa banyak, namun seberapa tulus dan seberapa tepatnya apresiasi tersebut diberikan.

Kalian mungkin pernah melihat ataupun sekedar mendengar peristiwa tragis yang terjadi pada seseorang ketika tidak ada seorang pun yang memberikan apresiasi terhadap keberhasilannya. Banyak sekali kemungkinan buruk yang akan dilakukannya karena krisis apresiasi. Bunuh diri tidak luput dari list kejadian tragis yang bisa jadi terjadi (serem juga yak :o).

Aku punya teman nih, guys. Dia pernah cerita terkait kekecewaannya pada keberhasilannya sendiri. Ada sebuah pencapaian yang bagi dirinya sangat berharga (anggap saja menang lomba paduan suara) namun bagi orang lain sebatas kemenangan yang kurang bergengsi. Bahkan orang tuanya sendiri—orang yang seharusnya paling dekat dengan dirinya—acuh pada hal tersebut. 

Sebab momentum yang menurutnya mengerikan itu, dia berhenti melakukan hobinya dan tidak ingin lagi menjadi pemenang dalam perombaan apapun. Padahal dia sangat berbakat dan memiliki banyak kesempatan untuk lebih baik lagi. Sayang banget bukan?

Nah, seperti halnya temanku itu, aku pun pernah mengalami kesengsaraan ketika hasil karyaku atau sesuatu yang aku lakukan dianggap remeh oleh orang lain. Terlebih orang-orang terdekatku. Akan tetapi aku cukup bersyukur karena meskipun keremeh temehan yang dilontarkan orang lain tidak serta merta membuatku berhenti melakukan aktifitas yang kusuka. Mendeklamasikan puisi semisal. Oh bukan semisal, tapi memang yang sering kulakukan dan sedikit sekali yang mendengarkannya dengan serius. Mereka yang kuperdengarkan rekaman pembacaan puisiku malah asyik dengan ocehan tak berguna atau  lebih memilih menutup telinganya dengan headset. Atau kalau bukan dengan cara itu, mereka tiba-tiba menirukan gaya berpuisiku dengan sangat tidak sopan. Grrrrrr. Kok aku jadi pengen nyiram mereka pakai got segalon ya -_-

Puisi mengandung makna tersirat dan estetika tak ternilai. Membacanya cukup membutuhkan keahlian khusus dan kesiapan mental. Aku sadar, tidak banyak orang yang suka mendengarkan puisi. Orang-orang lebih senang menikmati lagu pop, reggae, atau mungkin dangdut. Karena pada kenyataannya memang orang-orang tertentulah yang mau memahami puisi dengan baik. Dan pastinya mereka istimewa.

Did you got what I mean?

Kepada orang-orang yang tidak seiman dengan saya dalam hal perpuisian, terimakasih atas apresiasi yang remeh temeh.

Miela Baisuni
Jatuh cinta pada buku sejak sekolah menengah, menulis adalah kecintaan mulai usia yang kalau ditanya jujur terus jawabannya. Sekarang milih fotografi dan travelling sebagai pelengkap hobi sebelumnya. Nice to see you!

Related Posts

Post a Comment